NASKAH DRAMA
Ter-ASING
TOKOH
1.
RATIH
2.
RATNA (Ibu Ratih)
3.
ANA (Adik
perempuan Ratih)
4.
HASAN (Kakek Ratih)
5.
SURI (bibi
Ratih)
6.
TIRO (Preman
kampung)
7.
HAMBALI (Kepala
adat)
8.
KATI (Warga
kampung)
9.
WARGA KAMPUNG 4 orang
10. PEGAWAI
Ilustrasi Singkat Cerita
Drama ini menceritakan kisah tentang seorang muslimah bernama Ratih yang berusaha untuk menyelamatkan keluarga dan desanya dari perbuatan syirik menyekutukan Allah. Ratih tinggal di desa terpencil di mana kondisi masyarakatnya masih terikat oleh budaya nenek moyang mereka yaitu menziarahi kuburan para syeh atau ulama yang mereka yakini bisa memberikan syafaat dan kesejahteraan kepada desa mereka. Hal ini mereka lakukan berupa kegiatan berdoa bersama di kuburan dan memberikan sesajen. Suatu saat Ratih mencoba menyadarkan keluarga dan masyarakat, namun masayarakatpun marah dan keluarganya mengusir Ratih dari desanya.
BABAK I
Latar : di rumah (ruang tamu)
Ratna masih terpukul dengan kejadian semalam.
Dia begitu sedih mengingat tentang anaknya Ratih. Ia masih merasa bersalah akan
kematian anaknya. Dia berdiri di dekat jendela menghadap keluar rumah dengan
tatapan kosong.
Ratna :
Banyak yang bilang anakku adalah bidadari surga. Ia kelak akan
menyelamatkanku. (mengusap
air mata, kemudian gerakan menutup jendela)
BABAK II
Latar :
di dalam rumah (ruang tamu)
Ratih sedang membersihkan rumahnya. Selesai
menyapu ia melepaskan semua foto-foto yang ada di dinding. Kemudian melaksanakan
sholat dhuha dan mengaji. Ratih membaca Surat AR-Rahman. Tujuan Ratih melepas
foto-foto tersebut agar rumahnya dimasuki malaikat. Namun, ibunya dan adiknya
tidak menerima niat Ratih tersebut. Mereka malah memaki-maki Ratih.
Ana :
cantik (sambil memamdangi foto yang dipegangnya). Ya ampun (Terkejut) foto-
foto saya kemana?
Ratih, Ratiiiih.. Ratiiih..
Ratih : Astagfirullah..
Ana :
eh kamu kemanakan foto-foto saya hah? Pasti kamukan yang sudah copot semua
foto-foto saya?
Ratih :
maafkan saya Ana, tadi memang segaja
saya copot, agar rumah ini terlihat bersih.
Ana :
apa kamu bilang sengaja di copot. kamu
syirik ya sama saya? Karna cuma foto saya yang di pajang.
Ratih :
bukan begi..
Ana :
alah jangan ber lakilah. Kamu pasti syirik kan. Makanya kamu rawat dirimu
itu, biar cantik. Agar juga bisa jadi
model seperti saya.
Ratih :
astagfirullah al’azim. Lebih baik kamu tinggalkan pekerjaan itu Ana. Membuka
aurat itu dosa besar. Kamu kan tau Aurat perempuan itu seluruh tubuh kecuali
muka dan telapak tangan. Dan Allah akan melaknat orang yang membuka aurat.
Sebagaimana yang disebutkan da...
Ana :
stop, stop, stop. Berhentilah sok alim di depan saya. Ibu.. ibu..
Ratna :
eh ada apa ini Ana?
Ana :
lihat ni bu kelakuan anak ibu yang sok alim ini. Foto-foto di dinding semuanya
dilepas bu.
Ratna :
ya ampun Ratih. Kamu itu memang keterlaluan ya. Kenapa kamu lepas foto ayahmu.
Ratih :
maafkan Ratih bu. Ratih hanya ingin membersihkan rumah bu.
Ratna :
membersihkan rumah apa ini. Membersihkan rumah itu menyapu, mengepel, caput
rumput.
Ratih :
maafkan Ratih bu. Ratih hanya ingin rumah ini dimasuki oleh malaikat. Malaikat
tidak akan masuk ke rumah kita, jika di rumah terpajang gambar-gambar yang
menyerupai makhluk hidup, malaikat dan patung-patung. Ratih tidak ingin rumah
ini seperti kuburan bu.
Ratna :
seperti kuburan? Ajaran dari mana Ratih? Kamu itu memang anak tidak tau di
untung ya. Cuma foto itu kenangan ayahmu.
Kamu tidak tau terima kasih. Sudah bersusah payah kami menguliahkan kamu.
Tapi apa yang kamu lakukan? Sudah waktunya kamu membahagiakan kami. contoh
adikmu. Meskipun dia tamat SMA tapi dia sudah punya penghasilan sendiri dan
membantu keperluan keluarga.
Ratih :
tapi pekerjaan membuka aurat itu di larang oleh Allah bu.
Ana :
dasar munafik. Paling tidak saya sudah mampu meringankan beben orang tua. dan saya
tidak kurang ajar seperti kamu. Lihat bu kelakuannya! di rumah saja dia memakai
kaus kaki. Uh sepertiya dia takut kakinya kotor menginjak lantai rumah ini.
Ratna :
kamu itu benar-benar tidak tau diri Ratih.
Ratih :
bukan begitu bu. Kaki itu adalah aurat bu. Memang tidak boleh kita tampakkan
kepada orang yang bukan mahram kita.
Ratna :
ooohh sudah pintar kamu rupanya. Sudah pandai mengajari saya. Kamu pikir saya
tidak tau soal agama hah.
Tiba-tidak warga kampung datang beramai-ramai
ke rumah mereka. Kedatangan warga kampung dikarenakan se-malam Ratih membuang
sesajen yang akan diberikan kepada Datuk Sati Putih.
Latar :
di depan rumah
Warga :
usir Ratih, usir Ratih, usir Ratih.
Ana :
ada apa itu bu?
Warga :
usir Ratih, usir Ratih, Usir Ratih
Ratna :
ada apa ini bapak-bapak ibuk-ibuk?
Kati :
kamu jangan munafik Ratna pura-pura tidak tau. Berani-berani kau menyuruh anakmu untuk memfitnah kami.
Warga :
usir Ratih, usir Ratih, Usir Ratih
Tiro :
tunggu apa lagi ayo kita seret dia, kita bunuh saja dia
Warga :
bunuh Ratih, bunuh Ratih, Bunuh Ratih
Hambali :
tenang-tenang bapak- ibuk-ibuk. (Melihat ke arah Ratna) Ratna dimana Ratih?
Ratna :
ini ada apa ya?
Tiro :
Sudah cepat katakan dimana dia?
Suri (bibi Ratih) pun datang. Dia berjalan
sangat cepat dan dari kejauhan dia memanggil Ratna dengan nada berteriak.
Suri :
Ratna (berteriak). Kau ini tidak bisa
mendidik anak. Apa yang kau ajarkan kepada anakmu sehingga kurang ajar.
Tiro : ya anakmu aib di kampung ini.
Kati :
berani-beraninya dia mengajari kami. Mentang-mentang di sekolah lebih tinggi.
Sok-sok mengajari kami ilmu agama.
Hambali :
Apa kau tidak tau Ratih? Anakmu telah durhaka pada Sati Putih.
Kati :
ya berani-beraninya ia mengatakan kami melakukan perbuatan syirik. Kami juga
tau agama Ratih. Apa yang kita lakukan semata-mata hanya bentuk penghormatan
kepada datuk Sati Putih. Kalau bukan karna beliau kampung ini tidak akan makmur
dan hasil panen tidak akan melimpah ruah.
Hambali :
Ya itu karna kita tidak membelaki beliau. Tapi apa yang anakmu lakukan
benar-benar bencana Ratna.
Suri :
ya berani sekali dia membuang semua persembahan yang akan kita berikan kepada
datuk.
Ratna :
Apa? (terkejut)
Tiro :
oh bagaimana ini.. kampung kita akan dilanda bajir besar dan Kekeriangan.
Hambali :
oh datuk maaf kan kami.
Warga :
oh datuk maafkan kami.
Ratna :
Ratih, Ratih (berteriak).
Ratih :
menemui ibunya dengan ketakutan
Ratna :
anak kurang ajar (menampar ratih)
Ratih :
apa salah Ratih bu? (menangis)
Suri : apa salah
kau? Kau benar-benar telah mencoreng arang dikeningku.
Ratna :
pergi-pergi kau! Pergi kau dari rumah ini!
Ratih :
ampun ibu (memegang kaki ibunya)
Ratna :
pergi (menendang) mulai sekarang kau
bukan anakku lagi. Pergiiii!
Ratih :
ibu-ibu.
Kati :
(menarik jilbab Ratih) . cepat
tinggalkan kampung ini!
Ratih di seret oleh warga kampung dan
dilempar ke jalanan.
BABAK III
3 BUKAN KEMUDIAN
Latar :
di rumah (ruang tamu)
Hasan sangat marah kepada Ratna karena tega
mengusir anaknya dari rumah. Ia pun pergi ke rumah Ratna.
Hasan :
Ratna, Ratna, Ratna (berteriak)
Ratna :
tunggu sebentar
Ana :
ooo kakek rupanya
Hasan :
Dasar tidak tau malu (mengayunkan tangan
ke arah Ratna hendak memukul)
Ana :
(menangkis pukulan Hasan) Apa-apa-an ni kek
Hasan :
(membentak) diam kamu anak nakal. (menarik nafas dalam) saya benar-benar
malu punya anak seperti kau Ratna. Percuma saya didik kau dengan ilmu agama,
saya ajarkan kau mengaji hingga kau remaja, saya sekolahkan kau di pesantren.
Tapi kelakuanmu seperti syaitan. Apa salah anakmu hingga kau usir dia dari
rumah ah?
Ana :
itu karn.. (terhenti karena dibantah Hasan)
Hasan :
diam kau (melihat ke arah Ana dengan tatapan tajam) aku tidak bebicara
denganmu.
Ana :
(hanya tertunduk)
Hasan :
apa salah cucuku kepadamu, sehingga kau begitu membencinya. Tidak cukup banggakah
kau dengan prestasinya selama ini. Mendapatkan prestasi pertama sedari kecil,
juara MTQ, tahfiz qur’an,
lulusan terbaik universitas dengan ipk 3,98. Hampir saja dia ke mesir untuk melanjutkan S2 dengan dibiayai oleh pemerintah. Namun, dengan kerendahan hatinya ditolaknya beasiswa itu, ia lebih memilih pulang ke kampungnya dengan niat mambangkiak batang tarandam.
Tapi apa yang terjadi, sesampainya dia di sini, kau hinakan dia, Hanya karena dia tak mampu memberikanmu kekayaan, tak mampu belikanmu barang-barang mewah seperti anak kesayanganmu itu (menunjuk kea rah
ana). Kau usir dia dari sini….
Ratna : ampun ayah, itu semua saya lakukan karna…
Hasan : karna apa? Karna kau lebih memilih warga kampung musyrik
terkutuk ini yang bangga dengan menyembah kuburan. Kau campak kan anakmu hanya karena dia menegakkan kebenaran LAILLAHAILLALLAH. (terdiam, menarik nafas dalam, hasan memegang dadanya yang sesak)
Berminggu-minggu cucuku hidup di jalanan, menangis mengemis belas kasihan orang lain. Tidakkah kau puikirkan apa yang dia makan, apakah dia aman di luar sana?. Dia anak perempuan kau, anak kandung mu ratna. Hanya dia satu-satunya cucuku. Satu-satunya. Satu-satunya cucuku yang hafal 30 juz Ayat suci Al-Quran, hafal 1000 hadist Rasullullah, guru mengaji bagi orang-orang beriman. Itukah yang membuat kau malu ah?
Seminggu dia di rumahku, tak dia sentuh nasi yang ku tanak, tak dia makan makanan yang aku hidangkan, setiap hari, siang dan malam dia menangis meratap, menyalahkan diri, meminta ampun kepada ALLAH, seolah-olah
telah melakukan dosa besar, dosa melawan ibunya. Apa salah nya Ratna? Apa dosa cucuku padamu?
Padahal dia sangat mencintaimu, mendoakanmu di setiap detik hembusan nafasnya, berusaha keras membuatmu bangga. Bahkan sampai di detik-detik kepergiannya, dia tetap mendoakanmu. Di
dalam pangguanku dia terbaring dengan air mata yang berlinangan. Dia terus menyalahkan diri, memita padaku agar ibunya diselamatkan. Ku peluk tubuhnya, ku genggam tangannya yang gemetar. Tak ingin aku kehilangan dia. Tapi, Allah sangat mencintainya, dia di jemput di iringi kalimat syahadat, meninggal dalam keadaan husnul khotimah, bibirnya tersenyum, wajahnya berseri, putih bersih bak bayi baru lahir. Seluruh alam menangisi kepergiannya, anak mu adalah bidadari surga yang akan menyelamatkanmu dari api neraka (hasan menangis tersedu) hanya seratus hari Ratna dia bersamaku.
Tapi apa yang kau lakukan, bersusah payah saya menghubungimu, ku titip pesan kepada tetangga, sengaja saya tangguhkan pemakamannya se-malam. Tapi kau tak datang Ratna. Sampai di saat pemakaman semua orang bertanya di mana dirimu. Saya malu ratna, saya malu, teganya kau coret arang di kening saya.
Besok adalah 100 hari cucuku pergi. Jika kau merasa berdosa datanglah.
BABAK IV
Latar :
di depan rumah
Tak beberapa lama setelah Hasan pergi
datanglah seseorang wanita yang berpakaian rapi. Dia membawa sebuah amplop.
Pegawai :
permisi- permisi
Ana :
ya ada apa ya
Pegawai :
saya dari lembaga pelayanan Haji ingin bertemu dengan ibu Ratna
Ratna :
ya saya Ratna
Pengawai :
apa benar ibu adalah ibunya Saudari Ratih.
Ratna :
ya
Pegawai :
sebenarnya saudari Ratih mendapatkan satu tiket gratis untuk berangkat umroh.
Jadwal keberangkatannya adalah tahun ini. Setelah kami komfirmasi ternyata
keberangkatan tersebut di wariskan kepada ibu Ratna komala yaitu ibunya
sendiri. Dia mengatakan kepada kami, ini adalah hadiah ulang tahun ibunya.
Selamat ya bu.
Mendengar ucapan pengawai tubuh ratna lemas.
Badannya gemetar. Ia menangis dan tiba-tiba pinsan. Ana memanggil-manggil
ibunya. Kemudian ia juga menangis terisak. Seketika ia mengucapkan kalimat
LAILLAHAILLALLAH 3X. Kemudian warga kampung berdatangan dan mengucapkan kalimat
LAILLAHAILLALLAH bersama Ana.
(SEMUA PEMAIN BERKUMPUL)
=*SELESAI*=
MEGAtouch Titanium trim Reviews - ITanium Art
BalasHapusThe snow peak titanium flask MEGAtouch Ti is edc titanium the thunder titanium lights world's titanium vs stainless steel apple watch most compact, compact, compact, and versatile USB charging device. It is made from platinum-bearing Titanium material with titanium frame glasses